Saturday, January 14th 2012
Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau Sumatera. 08.00 AM, saya dan 18 orang lainnya sampai di Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport, Palembang, setelah penerbangan selama kurang lebih 50 menit dari Soetta International Aiport, Cengkareng, 07.00 AM. Saya, Diko, Resbak, 9 orang rombongan OBET Nusantara dan 6 orang rombongan lain dari Saung Angklung Udjo masih harus melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi, Tanjung Enim.
By the way saya belum cerita ya, latar belakang saya menginjakkan kaki di pulau ini. Beberapa minggu yang lalu, Diko, salah seorang Sadagorian nawarin saya untuk ikut ke Palembang. Jadi di tempat Diko kerja ini, OBET (Outdoor Based Experiential Training) Nusantara, salah satu outdoor training provider, lagi butuh 2 orang untuk bantu jadi fasilitator kegiatan outingnya PT. BA di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Jelas tanpa ragu saya langsung meng-iya-kan tawaran tersebut!
Dari bandara kami diantar menuju lokasi dengan bus yg sudah disediakan PT BA. Ya, saya harus menyiapkan pantat untuk duduk selama kurang lebih 5 jam lagi, setelah sebelumnya menghangatkan pantat selama 4 jam sejak perjalanan dari Bandung. 09.00 AM, kami berangkat. Pemandangan yang tidak asing, saya nikmati di sepanjang perjalanan. Sawit, pohon pisang, tanah gambut, rawa dengan rumah-rumah panggung kayu di atasnya, tanah merah, semuanya, Borneo banget cuy! Perjalanan berkelok-kelok se-lama ini pun tidak asing sebenarnya, karena persis seperti inilah perjalanan dari bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, biasa saya lalui menuju Bontang, kota kelahiran saya.
Early lunch, 11.20 AM, kami berhenti di rumah makan Pindang Pegagan, kota Prabumulih, sebelum melanjutkan perjalanan. Pindang kuah, sambel nanas, pedes dan seger sih, sayangnya lagi males makan.
01.00 PM. Kami memasuki Muara Enim, dan satu jam sesudahnya, kami mulai memasuki Tanjung Enim. PLTU Bukit Asam, Sekolah … binaan PT. Bukit Asam, … binaan PT. Bukit Asam. Itulah yang saya temui sepanjang perjalanan di Tanjung Enim. Oh, jadi PT BA itu PT. Bukit Asam, disitu saya baru ngeh. Gapura besar “Komplek Perumahan PT. Bukit Asam” menyambut kami. Bus kami masuk, dan beberapa meter setelah pintu masuk saya membaca tulisan di depan sebuah gedung, kalo ngga salah tulisannya: “Perusahaan Tambang Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. …” disitu saya baru ngeh(lagi) kalo Bukit Asam ini ternyata tambang batubara -..- Semakin masuk ke dalam komplek, semakin saya berfikir kalo ini benar-benar ANEH! *lebe. Yang bikin saya heran setengah mati, komplek ini mirip mirip persis sangat persis dengan komplek full-facility perusahaan PT. Pupuk Kaltim (PKT) dan PT. Badak Liquid Natural Gas (LNG), kalo di Bontang. Dari jalannya yg sepi dan rapi, pohon sawit sebagai pohon tepian jalan, danau buatan dalam komplek, taman bermain, rumah sakit, Gedung Olahraga (GOR), sampai convention hall-nya. Disitu saya bengong sambil sotoy menyimpulkan: Mungkin kompleknya daerah tambang ngga jauh beda kali ya ._.
In everything, Bontang banget dah, berasa pulang kampung. Termasuk udaranya yang kering dan panas. I’m in Calcuta right now!
02.15 PM. Bus kami berhenti di depan GOR PT. Bukit Asam. Saya segera turun dari bus dan langsung masuk ke dalam GOR (sebenernya karena kebelet pipis :D). Beberapa orang sedang sibuk masang karpet dan beberapa lagi check sound. “Acaranya di sini, Bu?” “Iya, disini”, jawab bu Wening, pemilik OBET Nusantara, dengan muka sumringah (emang mukanya selalu senyum dari pertama ketemu juga. She’s a very pleasant womankind). “Kalo yang ini Inbound namanya”, celetuk salah seorang kru OBET sambil bercanda ke kami yang ada di sana. Mungkin karena peserta yang relatif banyak, konsepnya lebih ke gathering (yang lebih)mikir dan team building, makanya mereka milih indoor, saya menyimpulkan.
Bu Wening segera mengumpulkan kami. Dekat panggung kami duduk melingkar untuk briefing; ngebahas rundown, dan pembagian tugas, sampai pa Robby datang kearah kami dengan senyum lebar membawa sekantong plastik rambutan dan air mineral. Pa Robby ini pemiliknya OBET Nusantara, and this middle-aged man was very nice! Beliau dan 3 kru lainnya sudah tiba di Tanjung Enim dari kemarin sebagai tim pendahulu, as usual. Lalu bu Wening mengakhiri briefing awal dan mengajak kami duduk-duduk di meja bundar depan GOR. Ditemani rambutan ditengah siang yang terik, kami ngobrol santai sambil ngejahit dan nyiapin bendera kelompok untuk games besok pagi. 18 buah bendera siap saat udara sore semakin panas, badan semakin gerah dan muka semakin kucel. Akhirnya kami memutuskan untuk caw ke mess.
Lagi-lagi semuanya serba mirip dan membuat saya kembali berdecak. Rumah-rumah di sini setipe banget sama rumah di komplek perumahan PKT. Jalan aspalnya, bentuk rumah yang seragam, cat tembok warna krem, lantai marmer, dan halaman luas tanpa pagar di sekeliling rumah. 4 buah unit rumah disediakan untuk kami tinggali selama 2 malam, dan setelah berdiskusi di bus tadi, kami yang muda-muda ini memutuskan untuk tinggal barengan. Kami memilih rumah nomor C-23 untuk ditempati. Saya tinggal bersama 4 orang lainnya, Diko, Resbak, mba Mia, dan mas Aan. Mba Mia dan mas Aan ini udah kerja bareng OBET selama setaun terakhir. Mereka berdua sama-sama dari Psikologi UI, biasa bantuin OBET untuk jadi fasilitator sekaligus observer. Bedanya, mba Mia angkatan ‘06, mas Aan angkatan ‘04. Tapi ngomong-ngomong 5 orang dari kami ini yang paling muda di antara tim OBET Nusantara lainnya.
06.30 PM. Akhirnya! Kami segera masuk ke rumah, ngebagi kamar, beresin barang-barang, dan yang paling ditunggu-tunggu, mandi! Sebenernya kami ngga langsung mandi, tapi malah ngaso dulu di sofa sambil nonton dan leyeh-leyeh, melepas lelah. Alhasil, jam 8 bu Wening masuk ke rumah mengarak-arak kami untuk segera keluar dari rumah “Ayo ayo udah jam 8 ini! Kita harus segera makan malam dan briefing lagi” “Iya bu siap!” kami panik dan segera bergegas. “Bak, bak cepetan. Busnya udah nungguin tuh di luar”. Resbak masih showeran dengan santainya di kamar mandi, mas Aan aja ampe ngga mandi (padahal emang dasar mas Aan nya aja males mandi -..-)
08.15 PM. Kami menyantap makan malam di mess-hall. Asli makanan ngga ada yang ngga pedes seharian ini. Alhasli, lagi-lagi saya mengurangi porsi makan dan menambah porsi minum, biar tetep kenyang. 09.30 PM, makan malam selesai. Kami kembali ke GOR untuk briefing yang sesungguhnya tentang teknis pelaksanaan outing besok dan pembahasan games secara detail, dipimpin pa Robby dan bu Wening. 11.00 PM briefing selesai, 12.00 PM kembali ke mess. Meskipun ngantuk dan cape sebadan-badan karena perjalanan hari ini, kami ngga bisa langsung tidur. Karena masalah teknis, ternyata ada pengurangan kelompok dan itu berarti kami harus benerin name tag perserta dengan melebur 2 kelompok ke dalam 18 kelompok lainnya. Diko dan mba Mia udah ngantuk-ngantuk, mas Aannya masih di GOR bantuin persiapan di sana. Akhirnya Diko dan mba Mia meninggal, meninggalkan alam sadar maksudnya, ketiduran di sofa ruang tamu. Setelah nyuruh mereka pindah ke kamar, tinggal saya dan Resbak yang bertahan menyelesaikan name tag di ruang tamu. 01.00 AM. Name tag selesai, beberapa detik kemudian Resbak udah ilang aja dari alam sadar, tidur di sofa depan saya. Bermaksud nungguin mas Aan pulang, saya pun ikut melungker ala kucing di sofa ruang tamu, sambil merem dikit.
Merem dikit ternyata kebablasan. 02.00 AM. Ada suara-suara orang buka pintu masuk rumah dan beberapa orang menggumam, tapi saya masih males melek. Beberapa saat kemudian, “Pris, priska.. Priska..”, denger suara berat khas nya mas Aan manggil-manggil, saya pun melek. Pas melek, sesosok laki-laki berkacamata udah duduk depan saya, dan dengan nadanya yang ringan dan santai ngomong “Ko tidur di sini sih? Pindah kamar, gih”. Karena kaget, saya pun beneran melek dan langsung bangun, pindah ke kamar. Ah.. kamar lebih nikmat ternyata. Segera tarik selimut, dan tengkurep sambil benerin posisi bantal. Karena masih setengah sadar, saya pun sayup-sayup denger mas Aan yang abis dari kamar mandi, nyamperin sambil nggumam “Yiah, dia langsung selimutan”. “Gimana sih, katanya suruh tidur di kamar..”, celetuk saya dalam hati, kemudian tidur.