I'm the eldest in my family and they named me Priska. I have a great sister and a lovable brother. I heartily love them that's why I always be their role model. I'm a super woman, I'm iron-willed and Urban Planning is my closest dream
grecos:

Our efforts paid off! #RiungGanesha

grecos:

Our efforts paid off! #RiungGanesha

Selamat bersenang-senang di himpunan kalian masing-masing. I swear I’ll miss you guys..

Selamat bersenang-senang di himpunan kalian masing-masing. I swear I’ll miss you guys..

Sebelum April berakhir..
Thankyou sooo much Ochaa, Bungaa, Ayu, Raisa, Fanny, kyaaaaaa :*:*({}) Terharu bacanya. Dan kuenya enak! Blekfores selay bluberi + jeruk, nyyammm.. thankies ladies :)
Suka banget sama foto ini meskipun kata Bunga ‘editan alay’. Tapi ngga juga ah, saya suka warnanya, ini warna jahim saya November mendatang :)
Photo by: Bungaria Ramadhani

Sebelum April berakhir..

Thankyou sooo much Ochaa, Bungaa, Ayu, Raisa, Fanny, kyaaaaaa :*:*({}) Terharu bacanya. Dan kuenya enak! Blekfores selay bluberi + jeruk, nyyammm.. thankies ladies :)

Suka banget sama foto ini meskipun kata Bunga ‘editan alay’. Tapi ngga juga ah, saya suka warnanya, ini warna jahim saya November mendatang :)

Photo by: Bungaria Ramadhani

Tenang, Terkendali

  • Percakapan saya dengan Adhietya Orlando (ngaran Adit we hese pisan) di sebuah media jejaring sosial. Sedang membahas tugas ****. Ini dia
  • ...
  • Saya: Maneh nggeus?
  • Adit: Can. Hahaha. H-1 biasanya baru ngerjain. Kaleum, bisa di atur, bukumah banyak
  • Saya: Ggaaahhhhhh
  • Adit: Masuklah ke kelompok urang, dijamin woles.
  • Saya: Haaaa
  • Adit: Jangan panik, belajar dari Arif. Walaupun deadline nya sejam lagi dia bakal tenang
  • Saya: Bahahaha nya euy, kudu berguru ka arip ieu mah. Tapi heran da, bisa gapanik sama sekali
  • Adit: Takdir cenah. Makanya liat aja gayanya nyantai gitu
  • Saya: Kalo maneh Dit, kumaha?
  • Adit: Urang baheulana siga maneh. Panikan. Setelah kenal jeung deket ama arif jadi berubah. Jadinya santai tapi tetap terkendali. Ga kayak dia, santai dan tak terkendali --> FREEMAN
  • Saya: Bahahahahaha *ngakak puas*
  • Stress juga dah jadi orang panikan. Mending nyemplung ke laut!

Mereka (mulai)Berkecamuk

Maaf, malam ini saya numpang curhat. Baiklah, to the point aja.

Benar, sebenar-benarnya kebenaran maha benar bahwa, tekpres* memicu kegalauan. Akut.

Tapi serius, demi Neptunus kecoblos kaktus di hutan pinus, saya harus menyampaikan (lebih tepatnya mengutarakan) hal ini. Sekuat apapun imanmu, seteguh apapun pendirianmu. Percayalah. Kalau anda ada di posisi saya pasti akan mengalami hal serupa. Namun lain cerita apabila anda memang mencintai suatu hal dan telah bulat memilih jurusan yang berhubungan dengan hal yang anda cintai tersebut. Menangkap apa yang saya maksud?

Kontras, yang terjadi pada saya saat ini adalah, saya berada pada suatu keadaan dimana, misalnya anda, mencintai suatu hal, menggelutinya sedari kecil, kapabel dalam melakukan hal tersebut, namun di saat-saat terakhir, sekelebat melihat suatu hal yang lain, yang anda pikir berilmu lebih luas dengan oportunitas tinggi, keprofesiannya memang sedang sangat dibutuhkan, dan kemudian memiliki cita-cita sosial di bidang tersebut, dengan 0,0012% faktor restu orang tua, tanpa benar-benar meninggalkan/kehilangan kemampuan/kecintaan anda pada hal mula-mula, yang sudah mendarah dan mendaging.

Ditambah lagi, tidak hanya satu-dua orang yang turut berkomentar mengenai hal ini. 

“Plano? Kenapa Plano? Udah Arsi aja, priska. Kamuteh cocok di arsi(nada melembut), telaten. Sok dipikirin..” (mang Aji, salah seorang Sadagorian, pelatih fisik penjelajahan 2010 saya, yang saya kagumi lantaran gayanya (yang sangar-namun-baik-hati-serta-penuh-perhatian) dan goresan-berani berseni tinggi sketsa-sketsanya di atas kertas)

“Oh, planologi..(nada semangat) Iya, bagus itu. Prospeknya bagus. Kalo arsitek udah banyak. Dan emang di kita ini sekarang kekurangan planner” (pa Pipih Priyatna, salah seorang Sadagorian, juga arsitek)

“Arsi aja ih pris. Sayang” (Ocha Raisah)

“Oooh, planologi. Bagus-bagus. Bidang kamu itu memang menarik sekali” (Pdt. Martinus Ursia)

“Mau masuk seni rupa kan? Kenapa ngga seni rupa aja pris..” (Mas Tito, mahasiswa S2 fine art, ISI Yogyakarta, teman mas-mas-sepupu-saya-di-Blitar-Jatim, yang akhirnya menjadi teman saya juga, akibat sudah sangat dekat bagaikan saudara) *mahiwal*

“Kenapa ngga arsi sih? Kamutu ulet. Ngga kangen sama aku, ngga pengen ketemu aku lagi di arsi?” (Clara Yoanika) *preettt*

“Kenapa mau plano?” (Nizar Istighfarli)

“Aneh diamah” (Raisa Zuhria)

“Priska tehh dewa pisan tekpresnya ya? Masuk arsi aja priskaaa!” (Revarinda) *rada lebay sih rev-,-*

“Yakin plano..? Ngga mau arsi nih..?” (A,B,C .. Z, rekan fakultas)

Mereka bagaikan setan-merah-bertanduk dan malaikat-putih-bersayap kerdil yang berdiri di pundak kanan dan kirimu, masing-masing mempertahankan argumennya dan terus mencoba meyakinkanmu.

Sebenarnya saya sudah (sangat)kebal dengan berbagai hasutan klasik rekan2 sefakultas yang terus terlontar, namun.. ah, mother of blood, hati ngga pernah bohong.

Topik yang mainstream sih, kedengarannya sepele: “galau jurusan”. Tapi berhasil membuat saya benar-benar speechless sambil terus memutar otak dengan bantuan indera pe”rasa”.

S.O.S. Give me wisdom, God. Dan saya harus segera telfon ayah!

____________

*tekpres: Teknik Komunikasi dan Presentasi, salah satu mata kuliah pengenalan-jurusan di semester 2. Sedikit berbeda dengan mata kuliah Dasar Perencanaan dan Perancangan (DPP) di semster 1 yang bersifat teori, mata kuliah ini lebih menekankan cara-cara mengkomunikasikan ide dalam bentuk visual yang lebih terukur dan bersifat teknis.

Katok’e Bolong

Idem dengan Sabtu-sabtu malam lainnya, saya menghabiskan malam itu untuk numpang tidur di rumah oma-dan-opa. Setelah dibukakan pagar oleh opa, segera saya memarkir motor, lalu masuk ke dalam rumah.

Seperti biasa, masuk ke dalam kamar untuk meletakkan tas dan tabung, lalu segera mengganti baju. Oya, sepasang baju saya satu-satunya-yang-saya-pake-berbulan-bulan-siang-sore-dan-malam-tiap-nginep-di-rumah-oma ternyata baru di cuci. Saya yang sedang mondar-mandir keluar-masuk kamar segera menghentikan pencarian pakaian-yang-hilang, ketika dari ruang keluarga oma memanggil sambil menyerahkan sepotong kolor-karet-merah-kotak-kotak yang (sudah)wangi kepada saya

O: “Pris, iki lo katokmu, wis dicuci oma”

P: (sumringah menemukan katok yang hilang) “Weee makasih omaaa :D” (akhirnya dicuci juga)

O: “Katok kok bolong kabeh..”

P: (dengan muka cengo dan bodoh membuka lipatan celana dan segera memeriksa bagian-bagian-penting-dari-sebuah-celana) “Maaana.. Enggak kok oma..”

O: “Yo ra bolong ra iso digae to, kon iki piye”

P: (bedem cesss..)

Seketika gelak tawa opa pecah saat sedang minum sambil memperhatikan ekspresi muka saya dari ruang makan, “hahaha. Omaa, oma..”. Puas ditertawai, saya pun ngeloyor sambil cengengesan.

Klasik. Tapi untuk kesekian kalinya saya masih saja berhasil termakan oleh guyonan oma yang-kalo-dipikir-pikir-terlalu-konyol-untuk-ditanggapi-serius. 

But honesty I will miss her, for sure :)

Menghakimi atau Mendidik?

Ditulis oleh: Prof. Rhenald Kasali (Guru Besar FE UI)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat. Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa.

Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberinilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?”“Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

BUDAYA MENGHUKUM

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak anaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!   Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.

Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.

Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti.

Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.

***

Etika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi.

Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.

Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif.

Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

MELAHIRKAN KEHEBATAN

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas…; Kalau,…; Nanti,…; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.

Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh.

Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.

Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.

Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Hanya sebatas menilai, berargumen, dan berwacana tanpa ikut merasakan pokok suatu permasalahan dengan terjun langsung ke dalamnya, tidak akan menghasilkan apa-apa
Obrolan-sore-menunggu-hujan

Selamat jalan Angelina Yofanka

Senin sore, 6 Februari 2012, saya mendapat kabar via BBM (Sida Acuta Group) bahwa dibutuhkan sukarelawan SAR sesegera mungkin untuk membantu mencari seorang anggota KMPA yang hanyut dalam kegiatan Rafting sungai Cikandang, Garut. Disitu spontan saya teringat salah seorang teman saya, Ihsan, yang sejak minggu lalu berulang-ulang menggumamkan kalimat yang isinya sama, “Sabtu ieu urang ngarung pe! Cikandang! Wooh, meh normal deui!”.

Segera saya nyalakan laptop, membuka browser, dan mengaktifkan jendela facebook pada most visited halaman chrome. Notification dalam grup Sadagori pun saya buka, dan benar, beberapa postingan telah masuk dari malam tadi. Telah hilang salah seorang anggota KMPA dalam pengarungan sungai Cikandang, Angelina Yofanka, Teknik Kelautan ITB 2009, sejak kemarin siang (Minggu, 5 Februari 2012).

Selasa, 7 Februari 2012, di selasar TVST setelah mata kuliah fisika, sekilas saya melihat teman saya, Ihsan, anggota KMPA yang juga serta dalam pengarungan dua hari yang lalu. Tanpa menunggu lama saya langsung nyamber nyamperin, menanyakan sekaligus meminta verifikasi tentang kabar hilangnya anggota KMPA tersebut. Dengan muka kantuk (karena pencarian Yofanka dan belum tidur dari kemaren) namun bersemangat, Ihsan menceritakan dengan jelas sambil mengeluarkan kertas dan pensil untuk menggambarkan sungai, lokasi serta posisi wrap dan hilangnya Yofanka. Mendengar kronologis kejadian dan beberapa kemungkinan yang disampaikan, saya berspekulasi bahwa kecil kemungkinan Yofanka ditemukan dalam keadaan selamat, hidup. Lirih saya berkomentar.

Tim Pencarian dibentuk dari gabungan tim Aangkatan Laut Jakarta dan Bandung, tim SAR gabungan Koramil, Wanadri, Sadagori, mapala ITB, UNPAD, UNPAR, dan penggiat-penggiat alam lainnya, namun Yofanka tak kunjung ditemukan. Hingga sore tadi, Rabu, 8 Februari 2012, genap 3 hari setelah kejadian, Yofanka ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di batu-batuan tidak jauh dari lokasi yang selama ini dijadikan pusat pencarian.

Jujur, sesaat rongga dada saya seakan berhenti berkontraksi mendengar berita tersebut. Masih tidak percaya, dan sedih luar biasa saya rasakan, to be honest. Ini bukan kali pertama saya mendengar kematian seorang penggiat alam dalam kegiatan yang dicintainya, namun entah kenapa kejadian ini yang paling memukul saya.

Angelina Yofanka. Di usia mudanya, 19 tahun, meninggalkan keluarga dan teman-teman tercinta, dengan jejak Indeks Prestasi terakhirnya, 4.00. Mungkin saya memang tidak mengenalnya. Namun dari sorot mata dan senyumnya, saya tahu, dia sosok wanita yang ceria, kuat, dan tangguh. She’s too smart, too perfect to died young, mungkin sebagian besar orang sependapat dengan saya. Tapi saya tahu, Tuhan selau punya rancangan tersendiri dalam hidup tiap manusia. Kita tidak tahu kapan waktu kita. Dengan demikian, berjaga-jagalah senantiasa dan tetaplah benar kamu dalam hidupmu. Hiduplah seperti hari ini adalah hari terakhirmu. Sebuah kontemplasi.

Satu hal yang begitu menyentak saya bersamaan dengan kepergiannya, bahwa kekuatan alam maha dasyat. Terlebih Tuhan. Kepergian Yofanka membuat saya merenungkan kekuatan dan kebuasan alam, yang tidak pernah saya renungkan sejauh ini sebelumnya.

Dalam sebuah perjalanan, hanya ada Alam, Tuhan, dan Aku.

This is my deepest condolence. Rest In Peace Angelina Yofanka (1992-2012)

Selayang pandang
Mt. Ciremai, January 23th 2012

Selayang pandang

Mt. Ciremai, January 23th 2012

Tanjung Enim part. II

Sunday, January 15th 2012

“Ayo cepet istirahat, besok harus bangun pagi. Karena jam setengah 6 kita harus sudah siap di sini”, kata bu Wening di GOR, sesaat setelah breifing selesai, malam sebelumnya.

Malam itu kami teler semua. Dan paginya, ngga ada yang denger alarm satu pun (ya paling banter, denger terus dimatiin). 05.50 AM. Resbak yang dari malem tidur di sofa ruang tamu bangun karena di urak-urak sama pa Ali, partner OBET lainnya dari rumah sebelah, lalu panik membangunkan kami berempat. 05.54 AM. Inget banget, itu yang saya lihat di jam dinding pagi itu. Kami semua langsung kocar-kacir, rariweuh, sambil menggosok gigi, dengan sigap segera ganti baju. Kami serumah ngga ada yang mandi. Wangi saja cukup. Itulah motto kami pagi itu.

06.30 AM, peserta PT BA ternyata sudah berkumpul dengan seragam kaos abu-orange dan topi lapangannya, duduk-duduk di meja makan yang telah disediakan di koridor GOR sambil menyantap sarapan mereka. Telaat! Dengan cepat kami turun dari bus, dan saya langsung mengambil posisi di meja registerasi. Belum selesai menata name-tag peserta di meja tersebut, para peserta udah pada datang mencari nama mereka masing-masing. Alhasil, meja registerasi sedikit kacau dan pendaftaran kurang berjalan dengan baik. 07.00 AM, akhirnya registerasi selesai dan seluruh peserta telah berkumpul di dalam GOR untuk warming-up. Tetap saja, saya dan Resbak masih menyesali ke-kurang-teratur-an registerasi ini, tentunya ini semua merupakan konsekuensi dari ke-blunder-an kami: ngga bangun pagi.

07.00 AM, acara dibuka dengan opening speech oleh leader PT. BA. Selanjutnya pengenalan fasilitator, dilanjutkan dengan mind setting yang dibawakan langsung oleh lead fasilitator, pa Robby. Kemudian energizer, berupa energizer game, masih dibawakan oleh pa Robby, disusul dengan teaming, yang dipandu oleh mba Ratu dan mba Pungky. 

08.30 AM. Kini saatnya team building 1, masih dibawakan langsung oleh lead fasilitator. Team building game pertama, shoes factory, dibawakan oleh bu Wening, dan team building game kedua, 2 by 4, dibawakan oleh pa Robby. Disini, kami 10 orang fasilitator bertugas mengawasi serta membimbing seluruh peserta yang terbagi dalam 18 kelompok sepanjang kegiatan ini. Wow, ini baru team building 1, tapi kaki saya rasanya sudah siap di copot-copot karena lari bolak-balik sana-sini. Team building 1 selesai, peserta diberi waktu untuk coffee break. Tapi tidak untuk kami para fasil. Dan ngomong-ngomong, kami belum sarapan pagi, itu sebabnya Resbak udah berkicau kelaparan aja dari tadi.

10.00 AM. Masuk ke team bulding 2. Kalau team building 1 tadi merupakan games ringan sebagai pemanasan, sesi team building 2 inilah main activitynya. Pada sesi inilah nilai-nilai yang diharapkan diterima seluruh peserta disimulasikan dalam bentuk kegiatan berjudul Bridge Bulding. Ya, seperti namanya, membangun jembatan. Disini 18 kelompok tadi dilebur menjadi 9 kelompok besar, dimana dari masing-masing kelompok, diambil 2 perwakilan. Satu perwakilan disatukan ke dalam grup yang diberi  istilah Managemen Atas, satu perwakilan lagi disatukan ke dalam grup yang diberi istilah Managemen Tengah, dan sisanya disatukan ke dalam 9 kelompok besar yang diberi istilah Managemen Bawah. Masing-masing tingkatan memiliki peranannya masing-masing. Managemen atas bertugas memegang komando dan berfikir serta bertanggung jawab terhadap rancangan jembatan dengan ketentuan yang telah diberikan oleh tim OBET Nusantara. Managemen tengah bertugas sebagai perantara, menyampaikan perintah dari Managemen atas kepada Managemen bawah, sedangkan Managemen bawah bertugas sebagai ‘pekerja’, orang yang melaksanakan pembangunan jembatan, yang dibagi lagi sesuai peranannya dalam pembangungan jembatan tersebut: penanggung jawab simpul, penanggung jawab rangka, dll. Saya, Resbak, mang O-jack, kang Aji (anak Skyger) dan kang Herman (anak Skyger juga) bertugas mengawasi Managemen bawah, sambil memberi contoh membuat beberapa simpul kepada peserta yang membutuhkan. Pesan dari Managemen atas hanya dapat disampaikan kepada Managemen bawah melalui Managemen tengah menggunakan alat komunikasi Handy Talky (HT), dimana tidak boleh ada komunikasi langsung dari Managemen atas kepada Managemen bawah tanpa melalui Managemen tengah. Tentunya akan dikenai hukuman apabila melaggar. Masing-masing kelompok hanya diperlengkapi dengan 15 batang bambu panjang, 4 batang bambu pendek, 10 buah potongan setengah bambu pendek, dan 14 tali untuk membangun jembatan tersebut. 9 jembatan yang telah selesai kemudian disusun memanjang segaris diagonal gedung GOR, dan di uji coba oleh Managemen atas dan Managemen tengah. Target waktu yang ditentukan Managemen atas dalam menyelesaikan seluruh jembatan adalah 60 menit. Meskipun ternyata waktu yang tercatat hingga seluruh pembangunan jembatan selesai adalah 88menit, PT BA berhasil memecahkan rekor nasional (versi OBET Nusantara) pembangunan jembatan dengan waktu tercepat.

*tarik nafas*

Okey, team building 2 selesai, peserta dipersilahkan menikmati makan siang. Akhirnya makan jugaaa! Lagi-lagi makanan pedes Palembang bikin ngga nafsu makan. Alhasil, saya hanya meneguk 2 buah akua gelas (berharap perut berhenti meronta karena berfikir dirinya telah diisi penuh) sambil ngobrol santai bersama tim OBET Nusantara lainnya yang tengah menikmati makan-pagi-rapel-siang mereka.

02.00 PM. Makan siang selesai, kini saatnya tim dari Saung Angklung Udjo (yang dibawa jauh-jauh dari Bandung) memberikan hiburan. Setelah membawakan 3 buah lagu diiringi angklung dengan suara merdunya, mba Catty pun memimpin sesi kali ini: Angklung Synergy. Kami para fasil membagikan angklung kepada 277 orang peserta, sebelum akhirnya 4 buah lagu penuh dimainkan dengan paduan angklung oleh seluruh peserta. What a beautiful synergy! 

03.00 PM. De-briefing. Inilah bagian terakhir dari rangkaian outing hari ini. Dipimpin oleh pa Bobby, lesson learn of the game disampaikan. Dilengkapi dengan tampilan 7 menit leadership film, pa Robby menyampaikan kuliah singkatnya mengenai nilai-nilai yang tersirat dalam tiap sesi rangkaian kegiatan, dihubungkan dengan visi dan goal perusahaan. Ini memang sesi khususnya pa Bobby. “Kuliah-kuliah pa Bobby emang selalu ngena!” aku Diko, juga pa Ali. Saya pribadi, menganggap pa Robby ini seorang motivator! Setelah ditutup oleh Dirut PT. BA, kegiatan gathering PT. Bukit Asam ini pun berakhir. Akhirya!

-belum selesai-

Tanjung Enim part. I

Saturday, January 14th 2012

Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau Sumatera. 08.00 AM, saya dan 18 orang lainnya sampai di Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport, Palembang, setelah penerbangan selama kurang lebih 50 menit dari Soetta International Aiport, Cengkareng, 07.00 AM. Saya, Diko, Resbak, 9 orang rombongan OBET Nusantara dan 6 orang rombongan lain dari Saung Angklung Udjo masih harus melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi, Tanjung Enim.

By the way saya belum cerita ya, latar belakang saya menginjakkan kaki di pulau ini. Beberapa minggu yang lalu, Diko, salah seorang Sadagorian nawarin saya untuk ikut ke Palembang. Jadi di tempat Diko kerja ini, OBET (Outdoor Based Experiential Training) Nusantara, salah satu outdoor training provider, lagi butuh 2 orang untuk bantu jadi fasilitator kegiatan outingnya PT. BA di Tanjung Enim, Sumatera Selatan. Jelas tanpa ragu saya langsung meng-iya-kan tawaran tersebut!

Dari bandara kami diantar menuju lokasi dengan bus yg sudah disediakan PT BA. Ya, saya harus menyiapkan pantat untuk duduk selama kurang lebih 5 jam lagi, setelah sebelumnya menghangatkan pantat selama 4 jam sejak perjalanan dari Bandung. 09.00 AM, kami berangkat. Pemandangan yang tidak asing, saya nikmati di sepanjang perjalanan. Sawit, pohon pisang, tanah gambut, rawa dengan rumah-rumah panggung kayu di atasnya, tanah merah, semuanya, Borneo banget cuy! Perjalanan berkelok-kelok se-lama ini pun tidak asing sebenarnya, karena persis seperti inilah perjalanan dari bandara Sepinggan, Balikpapan, Kalimantan Timur, biasa saya lalui menuju Bontang, kota kelahiran saya.

Early lunch, 11.20 AM, kami berhenti di rumah makan Pindang Pegagan, kota Prabumulih, sebelum melanjutkan perjalanan. Pindang kuah, sambel nanas, pedes dan seger sih, sayangnya lagi males makan.

01.00 PM. Kami memasuki Muara Enim, dan satu jam sesudahnya, kami mulai memasuki Tanjung Enim. PLTU Bukit Asam, Sekolah … binaan PT. Bukit Asam, … binaan PT. Bukit Asam. Itulah yang saya temui sepanjang perjalanan di Tanjung Enim. Oh, jadi PT BA itu PT. Bukit Asam, disitu saya baru ngeh. Gapura besar “Komplek Perumahan PT. Bukit Asam” menyambut kami. Bus kami masuk, dan beberapa meter setelah pintu masuk saya membaca tulisan di depan sebuah gedung, kalo ngga salah tulisannya: “Perusahaan Tambang Batubara PT. Bukit Asam (Persero) Tbk. …” disitu saya baru ngeh(lagi) kalo Bukit Asam ini ternyata tambang batubara -..- Semakin masuk ke dalam komplek, semakin saya berfikir kalo ini benar-benar ANEH! *lebe. Yang bikin saya heran setengah mati, komplek ini mirip mirip persis sangat persis dengan komplek full-facility perusahaan PT. Pupuk Kaltim (PKT) dan PT. Badak Liquid Natural Gas (LNG), kalo di Bontang. Dari jalannya yg sepi dan rapi, pohon sawit sebagai pohon tepian jalan, danau buatan dalam komplek, taman bermain, rumah sakit, Gedung Olahraga (GOR), sampai convention hall-nya. Disitu saya bengong sambil sotoy menyimpulkan: Mungkin kompleknya daerah tambang ngga jauh beda kali ya ._.

In everything, Bontang banget dah, berasa pulang kampung. Termasuk udaranya yang kering dan panas. I’m in Calcuta right now!

02.15 PM. Bus kami berhenti di depan GOR PT. Bukit Asam. Saya segera turun dari bus dan langsung masuk ke dalam GOR (sebenernya karena kebelet pipis :D). Beberapa orang sedang sibuk masang karpet dan beberapa lagi check sound. “Acaranya di sini, Bu?” “Iya, disini”, jawab bu Wening, pemilik OBET Nusantara, dengan muka sumringah (emang mukanya selalu senyum dari pertama ketemu juga. She’s a very pleasant womankind). “Kalo yang ini Inbound namanya”, celetuk salah seorang kru OBET sambil bercanda ke kami yang ada di sana. Mungkin karena peserta yang relatif banyak, konsepnya lebih ke gathering (yang lebih)mikir dan team building, makanya mereka milih indoor, saya menyimpulkan.

Bu Wening segera mengumpulkan kami. Dekat panggung kami duduk melingkar untuk briefing; ngebahas rundown, dan pembagian tugas, sampai pa Robby datang kearah kami dengan senyum lebar membawa sekantong plastik rambutan dan air mineral. Pa Robby ini pemiliknya OBET Nusantara, and this middle-aged man was very nice! Beliau dan 3 kru lainnya sudah tiba di Tanjung Enim dari kemarin sebagai tim pendahulu, as usual. Lalu bu Wening mengakhiri briefing awal dan mengajak kami duduk-duduk di meja bundar depan GOR. Ditemani rambutan ditengah siang yang terik, kami ngobrol santai sambil ngejahit dan nyiapin bendera kelompok untuk games besok pagi. 18 buah bendera siap saat udara sore semakin panas, badan semakin gerah dan muka semakin kucel. Akhirnya kami memutuskan untuk caw ke mess.

Lagi-lagi semuanya serba mirip dan membuat saya kembali berdecak. Rumah-rumah di sini setipe banget sama rumah di komplek perumahan PKT. Jalan aspalnya, bentuk rumah yang seragam, cat tembok warna krem, lantai marmer, dan halaman luas tanpa pagar di sekeliling rumah. 4 buah unit rumah disediakan untuk kami tinggali selama 2 malam, dan setelah berdiskusi di bus tadi, kami yang muda-muda ini memutuskan untuk tinggal barengan. Kami memilih rumah nomor C-23 untuk ditempati. Saya tinggal bersama 4 orang lainnya, Diko, Resbak, mba Mia, dan mas Aan. Mba Mia dan mas Aan ini udah kerja bareng OBET selama setaun terakhir. Mereka berdua sama-sama dari Psikologi UI, biasa bantuin OBET untuk jadi fasilitator sekaligus observer. Bedanya, mba Mia angkatan ‘06, mas Aan angkatan ‘04. Tapi ngomong-ngomong 5 orang dari kami ini yang paling muda di antara tim OBET Nusantara lainnya.

06.30 PM. Akhirnya! Kami segera masuk ke rumah, ngebagi kamar, beresin barang-barang, dan yang paling ditunggu-tunggu, mandi! Sebenernya kami ngga langsung mandi, tapi malah ngaso dulu di sofa sambil nonton dan leyeh-leyeh, melepas lelah. Alhasil, jam 8 bu Wening masuk ke rumah mengarak-arak kami untuk segera keluar dari rumah “Ayo ayo udah jam 8 ini! Kita harus segera makan malam dan briefing lagi” “Iya bu siap!” kami panik dan segera bergegas. “Bak, bak cepetan. Busnya udah nungguin tuh di luar”. Resbak masih showeran dengan santainya di kamar mandi, mas Aan aja ampe ngga mandi (padahal emang dasar mas Aan nya aja males mandi -..-)

08.15 PM. Kami menyantap makan malam di mess-hall. Asli makanan ngga ada yang ngga pedes seharian ini. Alhasli, lagi-lagi saya mengurangi porsi makan dan menambah porsi minum, biar tetep kenyang. 09.30 PM, makan malam selesai. Kami kembali ke GOR untuk briefing yang sesungguhnya tentang teknis pelaksanaan outing besok dan pembahasan games secara detail, dipimpin pa Robby dan bu Wening. 11.00 PM briefing selesai, 12.00 PM kembali ke mess. Meskipun ngantuk dan cape sebadan-badan karena perjalanan hari ini, kami ngga bisa langsung tidur. Karena masalah teknis, ternyata ada pengurangan kelompok dan itu berarti kami harus benerin name tag perserta dengan melebur 2 kelompok ke dalam 18 kelompok lainnya. Diko dan mba Mia udah ngantuk-ngantuk, mas Aannya masih di GOR bantuin persiapan di sana. Akhirnya Diko dan mba Mia meninggal, meninggalkan alam sadar maksudnya, ketiduran di sofa ruang tamu. Setelah nyuruh mereka pindah ke kamar, tinggal saya dan Resbak yang bertahan menyelesaikan name tag di ruang tamu01.00 AM. Name tag selesai, beberapa detik kemudian Resbak udah ilang aja dari alam sadar, tidur di sofa depan saya. Bermaksud nungguin mas Aan pulang, saya pun ikut melungker ala kucing di sofa ruang tamu, sambil merem dikit. 

Merem dikit ternyata kebablasan. 02.00 AM. Ada suara-suara orang buka pintu masuk rumah dan beberapa orang menggumam, tapi saya masih males melek. Beberapa saat kemudian, “Pris, priska.. Priska..”, denger suara berat khas nya mas Aan manggil-manggil, saya pun melek. Pas melek, sesosok laki-laki berkacamata udah duduk depan saya, dan dengan nadanya yang ringan dan santai ngomong “Ko tidur di sini sih? Pindah kamar, gih”. Karena kaget, saya pun beneran melek dan langsung bangun, pindah ke kamar. Ah.. kamar lebih nikmat ternyata. Segera tarik selimut, dan tengkurep sambil benerin posisi bantal. Karena masih setengah sadar, saya pun sayup-sayup denger mas Aan yang abis dari kamar mandi, nyamperin sambil nggumam “Yiah, dia langsung selimutan”. “Gimana sih, katanya suruh tidur di kamar..”, celetuk saya dalam hati, kemudian tidur.

This is my 2nd mockup, maybe the last.

Maket ini dibuat dalam kelompok, untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Sistem Alam Semesta. Mengambil tema “Sustainable Environment”, kami berhasil menyelesaikan prototype ini dalam waktu 3hari termasuk finishing. Meskipun untuk menyelesaikan dinding kayunya sendiri, saya harus duduk dari jam 10 pagi hingga 6 sore di CC Barat. Njelimet dan butuh ketelitian ekstra. Namun hasilnya, bisa dilihat sendiri, sangat amat memuaskan. It’s perfect, for me :) (meskipun sekat pintu di bagian depan nya rada fail, miring, karena udah cape -_-). 

I love making handiwork! I love making detail, so much. Ini merupakan salah satu bentuk refreshing bagi saya. Sayangnya, hati dan jiwa saya mangkir dari Arsitektur, dan demi masa depan serta kepuasan batin, bulat memilih Planologi :)

U224

Entah keyword apa yang saya ketikkan ke dalam mesin pencari sore tadi, saya menemukan sebuah situs. While enjoying 2-hours-set of U2 songs, in U224 playlist he made, I read this:

U2 and I: My U224

by: Djundi Prakasha

It was the Live Aid Concert 1985 which started my love for this band. It wasn’t the first time that I had heard about U2, but it was this show that made me fall in love with this group from Ireland. Craziness… that is how some people may describe my love of this band, but this love and craziness which I have is only the start of it. Because of my love of this band I have travelled almost around the world just to see their shows. Up to now I have seen U2 16 times since my first show in Stuttgart in 1993 to my last time in Perth 2010. The last six shows where in my playground – the front row of the concert.

Chicago in 2005, The Vertigo tour was like a blessing to me, a true gift. I am not saying that I am ungrateful for all the other times I have seen them but at this show I got the chance to get my picture taken with Bono. From what I remember, I shouted to him,

Bono, please can I have my picture taken with you. I am your fan from Indonesia and have come to Chicago just to celebrate your birthday.”

I hadn’t noticed but Bono was looking at me and said

Really? Sure. Here

Damn, I was speechless after that moment. It was a dream come true after all the years and miles of following them. I am also on the DVD deluxe version of this concert – even if only for a second and you have to press pause to find me but, hey, I was there in U2 DVD history. Still the Vertigo tour 2006 and I was in Melbourne. I got the chance to shake hands with all of the band and got all their signatures on my U218 deluxe album also I got the chance to have a photo with the founding father of U2, Larry Mullen Jr.

In Perth, December 2010, I think I was the only one who got a setlist from both nights and also got a photograph with the U2 stage manager Rocko Reddy.

If I start talking about my U2 collection it will be a very long story. Instead just come to my U2 bar and let me tell you and show you some of my U2 collection.

My love of U2 doesn’t just stop at collecting and going to shows but also in seeing locations connected to them. I have been traveled to Dublin, Ireland twice and stayed a night in the Clarence hotel (own by Bono and the Edge), and also took photos outside of Bono’s and Larry’s houses. I would like to see more than just the sites in Dublin though, places such as Eze, The Million Dollar Hotel and Sun Studio, etc…

Goddess! Djundi Prakasha might be the biggest, die-hardest, and crazed lunatic, U2 fan in Southeast Asia. Well, Indonesia, at least.

(Source: rudolfdethu.com)

Kata ayah, itu pupuk urea?

1.47 PM.

Siang ini saya lagi baca-baca latian soal SAS, Sistem Alam Semesta, salah satu mata kuliah wajib di semester 1 ini. UAS kali ini topiknya tentang biologi dan ekosistem. Seperti biasa, sistem-kebut-sepagisampesiang. Sampailah saya di soal Bab. 22 nomor 2, yang nanyain tentang sintesis urea. Ngomong-ngomong tentang urea, saya jadi inget masa kecil.

Waktu saya kecil, ayah itu sumber ilmu pengetahuan bagi saya. Ayah suka cerita banyaaaak macem-macem deh dari A sampe A lagi, tentang segala hal yang untuk-pertama-kalinya-saya-dengar.

Ayah pernah cerita, dulu ada rumah, di sebelah rumah itu ada pohon. Terus ada laki-laki yang lewat bawah pohon itu dan iseng pipis di situ, ngga tau iseng ngga tau gapunya kamar mandi. Terus ayah bilang, ngga lama, pohon itu tumbuh besar dan subur! Cerita klasik sih sebenernya, tapi bagi saya waktu itu, itu cerita yang luar biasa dan mencengangkan! Kata ayah, pohon itu bisa subur karena air kencing kita mengandung urea, yang berkhasiat menyuburkan tanaman. Karena itu, pupuk-pupuk buatan yang diproduksi setelahnya diberi kandungan urea didalamnya. Wow hebat sekali.

Sampailah pada suatu siang, saat lagi main di belakang rumah, saya yang berumur sekitar 5 tahun (kelas TK-B kira-kira) tiba-tiba kebelet pipis. Teringat cerita ayah tentang manfaat urea bagi tumbuhan, tanpa pikir panjang, saya pun menggunakan pot bunga ibu sebagai wadah ekspresi penerapan pengetahuan yang baru saya dapatkan. Tapi seinget saya, waktu itu males juga ke kamar mandi, jauh. Karena yang paling deket pot bunga ibu, yasudah, disitu aja, pasti ibu seneng, nanti liat bunganya tiba-tiba subur. Dengan sigap saya membuka celana, jongkok diatas pot bunga, dan mengekskresikan sisa metabolisme tubuh tersebut hingga tetes terakhir. Lega.

Keesokan harinya, sore hari waktu itu, ayah pulang kerja. Tiba-tiba ayah manggil dari halaman belakang

“Priska, sini” (kucluk-kucluk dateng)

“Ini kamu ya yang mipisin taneman ibu?”

“Iya, yah” (siapa lagi)

Muka ayah setengah heran setengah kaget setengah marah tapi setengah santai (bayangin aja sendiri). Nunduk-nunduk takut diomelin, saya setengah ngelirik tanaman di depan saya, yang sudah sekarat hampir mati digenangi air kuning berbusa sedikit pesing. Entah mengapa, sudah semalam lebih air seni saya menggenang di sana. Sepertinya lubang potnya tersumbat.

“Kenapa pipis disini?”

“Kata ayah kalo taneman dipipisin, jadi subur..”

“Iya, memang, tapi ada perbandingannya dong.” “Kalo taneman pot sekecil ini kamu pipisin, liat, apa lagi sampe nggenang gini. Ya mana bisa subur. Akarnya kan kerendem, jadi membusuk. Apalagi kerendemnya sama urea pekat, malah mati jadinya. Ada takarannya to sayang

Yang saya tangkap waktu itu: kalo mau pipis lagi, coba sedikit-sedikit di beberapa pot. Fool -..-

Well, inilah pengalaman saya waktu kecil. Tapi saya selalu salut sama ayah. Selain selalu menambah wawasan saya dengan cerita-ceritanya yang aplikatif (seperti contoh di atas), ayah selalu ngasih pengertian kalo saya ngelakuin kesalahan (atau kekonyolan) semacam ini. Dan kekonyolan macam ini ngga cuma sekali dua kali di masa kecil saya O_o. Tapikan lumayan nambah pengalaman. Daripada mipisin taneman orang umur-umur sekarang? Bisa-bisa digebukin tetangga se-RT.

Likes